GURU KENCING BERDIRI MURID KENCING BERLARI-(LARI)?

Kita tahu akhir-akhir ini posisi guru menjadi perbincangan hangat. Ada banyak kasus viral di media sosial dimana guru menjadi sorotan, terutama kasus antara guru dan siswa.  Guru melakukan tindak kekerasan yang dilakukan guru, guru mencabuli siswa, guru difitnah dan dipolisikan. Media sosial menjadi ajang meminta pembenaran dan mencari keadilan bagi siapa saja yang merasa di/terdzolimi. 

Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit mengulas topik yang hangat ini yakni masalah guru sebagai kekuatan dan ujung tombak bagaimana membentuk karakter siswa. Dalam konteks pencapaian tujuan pendidikan karakter, Guru menjadi ujung tombak keberhasilan tersebut. 

Guru, sebagai sosok yang digugu dan ditiru, mempunyai peran penting dalam aplikasi pendidikan karakter di sekolah maupun di luar sekolah. Sebagai seorang pendidik, guru menjadi sosok figur dalam pandangan anak, guru akan menjadi patokan bagi sikap anak didik. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional diamanatkan bahwa seorang guru harus memiliki kompetensi kepribadian yang baik. Kompetensi kepribadian tersebut menggambarkan sifat pribadi dari seorang guru. Satu yang penting dimiliki oleh seorang guru dalam rangka pengembangan karakter anak didik adalah guru harus mempunyai kepribadian yang baik dan terintegrasi dan mempunyai mental yang sehat.

Fenomena yang sekarang banyak ditemukan adalah adanya indikasi guru tidak mampu lagi menjadi filter pembaharu terutama hal-hal yang menyangkut pendidikan karakter. Kasus-kasus yang terjadi yang melibatkan guru dan viral di media sosial seperti pelecehan seksual yang di lakukan oleh oknum guru kepada anak didiknya di beberapa kota, kekerasan fisik juga lakukan oleh sejumlah guru dengan mengatas namakan kedisiplinan, guru dipolisikan oleh orang tua siswa yang tidak terima anaknya dihukum, dan kasus-kasus lainnya. Beberapa contoh kasus tersebut memang tidak dapat dijadikan barometer untuk mengukur kualitas guru, tetapi itu bukan berarti mengabaikan adanya fenomena tersebut. Kita patut sayangkan terhadap kejadian demikian ini, bagaimana mungkin seorang pendidik yang dituntut untuk memenuhi kompentensi kepribadian yang baik tenyata mempunyai perilaku yang menyimpang dari norma agama maupun norma sosial.

Ada banyak indikator untuk menempatkan guru sebagai sosok yang layak digugu dan ditiru. Tergantung cara pandang kita tentang guru. Namun, setidaknya kita dapat melihat guru dari dua indikator, yaitu kompetensi dan sikap. Seharusnya, guru dapat digugu karena kompetensinya. Guru dapat ditiru karena sikapnya. Guru tidak hanya menjalankan tugas mengajar di depan kelas. Guru dituntut untuk mampu mengembangkan kemampuan dan kecerdasan siswa secara komprehensif, baik intelektual, emosional, dan spiritual. Bahkan guru kini, dianggap menjadi sosok sentral dalam membentuk karakter siswa.

Dua sisi yang saling melengkapi ini akan menghasilkan kualitas anak didik yang cerdas secara psikis, fisik dan berkarakter cukup kuat. Akan halnya jika guru sendiri mempunyai kepribadian yang tidak baik, berkarakter lemah dan cenderung tidak menghormati nilai-nilai  sosial dan agama, apa yang selanjutnya terjadi? Bukan tidak mungkin anak didik akan menjadi korbannya. Ingat hukum sebab akibat! Contoh kecil saja, bagaimana siswa mau datang tepat waktu, seandainya mereka melihat guru datang terlambat, bagaimana mendidik siswa untuk membuang sampah pada tempatnya seandainya guru acuh tak acuh pada kebersihan lingkungan sekolah. Ironis!

Selanjutnya apa yang terjadi jika nilai-nilai moral telah hilang dari anak didik kita. Bukan tidak mungkin 10 atau 20 tahun mendatang nilai-nilai itu telah berkembang dan membuahkan hasil yaitu kehancuran bangsa. Korupsi, manipulasi, gratififikasi dan kejahatan-kejahatan lain itu adalah buah dari hasil tanaman kita. Naudzubillah!.

Pepatah mengatakan Guru kencing berdiri murid kencing berlari( lari) ? adalah tepat untuk menggambarkan bagaimana peran guru itu digugu atau dipercaya karena profesionalitas keilmuannya dan ditiru sikap dan perilakunya. Semoga kita bukan termasuk guru yang seperti ini. Tanamkan bahwa kita adalah guuru yang benar-benar layak digugu dan ditiru.

Oleh Dra. Wahyu Nurdiyati M.Pd

Bagikan artikel:
Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Assalamualaikum wr wb Ada yang bisa kami bantu?